Skip to content

SUPER QUANTUM TEACHING : MEMBANGUN KULTUR BELAJAR RAMAH OTAK

June 3, 2012

Oleh Asep Mahfudz

 PENDAHULUAN

Guru menjadi pusat perhatian karena sangat besar peranannya dalam setiap usaha peningkatan sumber daya manusia. Tak ada usaha inovatif dalam pendidikan yang dapat mengabaikan peranan guru. Penelitian di 29 negara mengungkapkan bahwa guru merupakan penentu paling besar terhadap prestasi belajar siswa. Peranan guru semakin penting di tengah keterbatasan sarana dan prasarana seperti di negara-negara berkembang.

Isu klasik yang muncul selama ini ialah : usaha apa yang paling tepat untuk meningkatkan mutu pendidikan melalui peningkatan mutu guru? Apakah melalui penataran, pendidikan/penyetaraan, atau melalui pelatihan menurut kebutuhan seperti dilakukan oleh sekolah negeri atau swasta? Isu lain : manakah pilihan yang lebih tepat antara peningkatan kesejahteraan (terutama gaji) bagi guru agar lebih termotivasi untuk bekerja? Sesungguhnya hal tersebut tidak menjamin 100% untuk peningkatan mutu guru, kalau guru itu sendiri tidak memiliki motivasi dan inovasi untuk mengubah pendidikan dan pembelajaran ke arah yang lebih baik. Membicarakan tentang guru dan dunia keguruan ibarat mengurut benang kusut : dari mana mulai dan pada titik mana berakhir? Tentunya jawaban atas pertanyaan tersebut tergantung pada sudut pandang mana yang digunakan dalam melihat guru. Untuk meningkatkan kualitas guru harus dilakukan melalui factor internal dan eksternal.

Faktor eksternal, guru harus banyak diberi pendidikan dan pelatihan berbagai keterampilan mengajar (metode pembelajaran) dari para penyelenggara pendidikan baik pemerintah maupun swasta yang konsen pada perbaikan di dunia pendidikan. Guru harus banyak tahu, bagaimana menghadapi siswa agar siswa belajar dengan menyenangkan sehingga pembelajaran berjalan dengan maksimal? Bagaimana guru dapat memotivasi siswa agar siswa menjadi pembelajar yang baik? Sedangkan faktor internal, guru harus lebih kreatif dan inovatif, serta banyak menyerap informasi tentang perkembangan dunia pendidikan terutama perkembangan metode pembelajaran.

Untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu proses dan hasil pembelajaran –di samping juga menyelaraskan dan menyerasikan proses pembelajaran dengan pandangan-pandangan dan temuan-temuan baru di pelbagai bidang– falsafah dan metodologi pembelajaran senantiasa dimutakhirkan, diperbaharui, dan dikembangkan oleh berbagai kalangan khususnya kalangan pendidikan-pengajaran-pembelajaran. Oleh karena itu, falsafah dan metodologi pembelajaran silih berganti dipertimbangkan, digunakan atau diterapkan dalam proses pembelajaran dan pengajaran. Dibawah ini ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh guru sebagai upaya untuk memperbaiki dan memperbaharui proses pengajaran guru dengan menggunakan metode mutakhir pembelajaran quantum.

  1. Quantum Teacher : Hidup di saat ini. Langkah awal yang harus kita lakukan adalah menyadari bahwa profesi guru adalah pilihan kita. Peran kita sebagai guru sangat penting. Kita dinantikan oleh banyak anak yang akan hidup di masa depan dengan berbagai tantangan zaman. Dan kita harus sadar bahwa hidup saat ini merupakan suatu keniscayaan masa depan yang penuh dengan perubahan.
  2. Berpandangan Positif Terhadap Murid. Niat kuat seorang guru atau kepercayaan akan kemampuan dan motivasi siswa harus terlihat sangat jelas. segala apa yang ada pada diri kita semuanya berbicara. Siswa “menangkap” pandangan anda lebih cepat dan akurat daripada mereka “menangkap” apapun yang kita ajarkan. Berlatihlah untuk mengubah pandangan kita dengan membayangkan angka 10 tercetak pada setiap kening siswa. Atau lebih mudah lagi kita melihat bintang emas pada setiap kening, seolah-olah mereka adalah murid-murid cerdas atau top. Dalam buku Education Of Possibility, Renate Nummela Caine dan Geoff menyatakan bahwa : “keyakinan guru akan potensi siswa dan kemampuan semua siswa untuk belajar dan berprestasi merupakan suatu hal yang sangat penting untuk diperhatikan”.

Kita harus yakin bahwa tidak ada siswa yang bodoh, semua siswa cerdas dan yang membedakan adalah bidang kecerdasan masing-masing. Menurut Howard Gardner dalam multiple intelligencenya bahwa manusia memiliki berbagai kecerdasan yaitu kecerdasan spasial dan visual, kecerdasan linguistic, kecerdasan interpersonal, kecerdasan music dan ritmik, kecerdasan naturalistic, kecerdasan body-kinestetik, kecerdasan intrapersonal, dan kecerdasan logic dan math.

  1. Menanamkan AMBAK. Murid akan mengikuti pelajaran kalau mereka tahu manfaat kita bagi kehidupan mereka. Munculkan aplikasi-aplikasi dari ilmu dan kegunaan ilmu di masa depan seperti ditempat kuliah, bekerja dll.
  2. 4.      Mengajar Sesuai Dengan Prinsip Kerja Otak.
    1. Memulai menceritakan dengan penemuan-penemuan baru. Otak manusia mempunyai prinsip “to use it or lost it” artinya digunakan tumbuh dan jika tidak digunakan mati. Otak akan terangsang tumbuh jika ia digunakan terutama untuk memahami hal-hal baru. Oleh sebab itu untuk menumbuhkan sel-sel otak murid-murid kita, kita ceritakan penemuan-penemuan baru diawal kita mengajar.
    2. Memberikan waktu jeda. Otak manusia mempunyai kemampuan berkonsentrasi umumnya 20 menit, dan jika digunakan lebih 20 menit otak mereka lelah dan kita mengalami kejenuhan. Otak juga membutuhkan oksigen sebagai sumber makanan dan bekal otak untuk bekerja. Setelah mengetahui hal ini, sudah seharusnya kita memberikan waktu jeda setiap 20 menit sekali. Waktu jeda ini dapat diisi oleh para murid untuk minum atau makan makanan kecil, senam-senam kecil, ke wc dll. Waktu jeda hanya sebentar saja. Jeda juga bias merupakan humor dari guru tersebut.
    3. Mengiringi belajar dengan music klasik. Berdasarkan teori otak kiri dan otak kanan, otak kiri digunakan untuk menanggapi hal-hal yang bersifat linier, eksak atau dalam proses belajar. Sedangkan otak kanan digunakan untuk hal-hal yang bersifat seni dan keindahan. Ketika otak kanan akan menggunakan jalannya otak kiri, untuk merangsang otak kanan maka belajar para siswa harus diiringi musik klasik.
    4. Belajar dengan melibatkan emosi siswa. Penilaian otak semakin menunjukkan adanya hubungan antara keterlibatan emosi, memori jangka panjang dengan belajar. Penelitian menyampaikan kepada kita bahwa tanpa keterlibatan emosi, kegiatan syaraf otak pelajaran dalam ingatan (Goleman:1995, Le Doux:1993, Mac Lean:1990).

     Ilmuan syaraf Dr. Yosef Le Doux mengemukakan bahwa amigdala, pusat emosi otak, memainkan peran besar dalam penyimpanan memori. Untuk melibatkan emosi murid, hendaknya kita menciptakan setiap pertemuan dengan mereka sesuatu yang “berkesan” bagi mereka, misalnya mengaitkan pelajaran dengan peristiwa-peristiwa penting di kalangan siswa.

  1. Mengajar Sesuai Dengan Tipe Belajar. Bekal seorang guru ketika ia menanamkan dirinya “Quantum Teacher” bukan lagi gambaran kemampuan akademis murid melainkan guru harus mengetahui tipe belajar para murid. Ada tiga tipe mengajar murid
    1. Visual. Modalitas ini mengakses citra visual yang diciptakan maupun yang diingat seperti warna, hubungan ruang, potret mental. Gambaran seorang yang sangat visual bercirikan sebagai berikut :

-       Teratur, memperhatikan segala sesuatu, menjaga penampilan.

-       Mengingat dengan gambar, lebih suka membaca daripada dibacakan.

-       Membutuhkan gambaran dan tujuan menyeluruh dan menangkap detail ; mengingat apa yang dilihat.

  1. Auditorial. Modalitas ini mengakses segala jenis bunyi dan kata yang diciptakan maupun diingat seperti music, nada, irama, dialog internal dan suara menonjol. Seseorang yang sangat auditorial dapat dicirikan sebagai berikut :

-       Perhatiannya mudah terpecah

-       Berbicara dengan pola berirama

-       Belajar dengan cara mendengarkan, menggerakkan bibir/bersuara saat membaca

  1. Kinestetik. Modalitas ini mengakses segala jenis gerak dan emosi yang diciptakan maupun diingat. Gerakan, koordinasi, irama tanggapan emosianal dan kenyamanan fisik menonjol disini. Seseorang yang sangat kinestetik sering :

-       Menyentuh orang dan berdiri berdekatan, banyak bergerak

-       Belajar dengan melakukan menunjuk tulisan saat membaca, menanggapi secara fisik

-       Mengingat sambil berjalan dan melihat

Setelah kita mengetahui modalitas belajar masing-masing murid, maka kita akan dapat mengajarkan mereka dengan metode dan media yang sesuai. Untuk mengetahui tipe belajar mereka harus digunakan alat tes.

  1. 6.      Mengajar Dengan Menggunakan Media

Media pengajaran yang dapat kita gunakan sesuai modalitas para murid :

  1. Untuk modalitas visual alat yang digunakan adalah poster, OHP,  slide proyektor, vcd, televise dll.
  2. Untuk modalitas auditorial  alat yang digunakan adalah tape recorder, haed phone, ceramah/bercerita, belajar lewat lagu dll.
  3. Untuk modalitas kinestetik alat yang digunakan adalah praktikum (alat-alat praktik), simulasi belajar dengan gerak dll.
  4. Mengajar Cara Belajar. Kelemahan dari metode pengajaran kita adalah menjadikan guru sebagai satu-satunya sumber pembelajaran. Sebagai “Quantum Teacher” justru peran kita hanya sebagai fasilitator, biarkan murid berenang dilautan ilmu dengan berbagai gaya dan kecepatannya. Karena kita sudah terbiasa menjadi sumber satu-satunya, akhirnya siswa bersifat fasif tidak mampu berinisiatif dan tidak memiliki keterampilan belajar. “Quantum Teacher” harus mau mengajarkan cara belajar agar anak bisa belajar dengan kecepatan tinggi dengan melebihi kemampuan (ilmu) gurunya. Cara belajar yang harus kita berikan kepada murid-murid adalah tehnik membaca cepat, tehnik mencatat tingkat tinggi, mind mapping, catat tulis susun, teknik menghafal.
  5. Memberi pengalaman “Aha”. Banyak murid yang terhempas tertutup harapannya untuk menguasai pelajaran, karena mereka prustasi, belum apa-apa kesulitan bertengger di depan mata. Bagaimana mereka keluar dari himpitan psikologis seperti ini??

Pengalaman “Aha” artinya para murid diberi pengalaman bisa mengerjakan atau berhasil dengan nilai yang baik, walaupun soal yang kita berikan merupakan setingan memunculkan kegembiaraan/rasa .

  1. Menciptakan Feed Back (jalin hubungan emosional dengan siswa). Quantum Teacher bukan seorang guru gila hormat. Sangat baik jika kita menciptakan hubungan erat dengan murid, tersenyum ketemu murid, menyapa duluan, member selamat kepada murid yang ultah, memberi nasihat, memanggil mereka dengan kesayangan di rumah, memberi hadiah kepada yang berhasil. Pada saat istirahat sebaiknya kita tinggalkan meja kerja, dan kita keluar dari ruangan guru dan bergabung bersama mereka dengan memainkan alat music atau sekadar ngobrol-ngobrol. Quantum Teacher adalah guru yang trendy. Kedekatan ini dapat membuka wawasan kita tentang betapa beragam dan beratnya tantangan yang dihadapi murid-murid kita. Dengan kedekatan yang diwarnai saling percaya dan saling menghormati, kita akan dapat memahami langkah apa yang harus dilakukan untuk membantu mereka. Kita tanamkan pada diri kita bahwa guru dan murid adalah mitra. Tak ada salahnya kita meminta saran (feed back) dari murid demi kemajuan metode mengajar kita.
  2.  Menata Lingkungan Belajar Mengajar. Quantum Teacher adalah guru yang sangat kreatif, dia akan mengerahkan seluruh potensi diri dan lingkungannya untuk menciptakan suasana learning is fun. Pertama yang bisa kita atur adalah bangku tempat duduk anak-anak diatur sedemikian sesuai dengan acara belajar, tidak monoton hanya menghadap kedepan saja. Kemudian di dalam kelas sangat baik jika ditata ada tumbuhan hidup untuk meningkatkan volume oksigen di dalam ruangan yang berguna bagi makanan otak, aroma-aroma yang dapat meningkatkan kecerdasan 30% memberikan ketenangan dan rileksasi, dan juga menyediakan hewan-hewan peliharaan yang dapat menumbuhkan rasa kasih sayang dan menghilangkan stress.

Kesepuluh hal tersebut apabila dilakukan dengan seksama akan melahirkan pembelajaran yang Ramah Otak. Ramah Otak tidak lain sebuah kultur belajar yang sangat efektif dan menyenangkan bagi siswa dan guru, sehingga tercipta proses pembelajaran yang sangat berenergi. Selama ini, proses belajar masih secara alami dan memaksa hanya otak kiri kita, sehingga yang muncul adalah kejenuhan, bosan, dan tidak menyenangkan. Belajar secara Ramah Otak™ menuntun kita untuk lebih mengoptimalkan bagaimana otak kita bekerja untuk belajar. Karena satu-satunya mesin untuk belajar adalah otak. Kalau otak manusia dilibatkan secara keseluruhan dan termasuk jiwa dan raga kita, maka akan terjadi percepatan belajar yang tidak akan kita duga dari sebelumnya (mungkin pemahaman akan meningkat cepat seperti halnya kecepatan cahaya). Tentunya konsep Ramah Otak ini menjadi bersahabat dengan metode pembelajaran quantum, karena Ramah Otak terlahir dari bagaimana seharusnya kita belajar dengan menggunakan seluruh otak kita dengan sikap belajar yang menyenangkan.

Bagaimana kegiatan pembelajaran seyogyakan dilakukan agar terjadi belajar yang men-quantum? Terkait dengan pertanyaan tersebut, ada beberapa hal yang patut diperhatikan dalam mengembangkan kegiatan pembelajaran agar efektif atau terjadi belajar men-quantum, yaitu :

  1. Learning is most effective when it’s fun (Peter Kline).

Ciptakanlah suasana yang menyenangkan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung. Pecahkan berbagai kendala belajar yang dialami oleh anak didik. Arahkan mereka untuk bertumbuh dan berkembang menjadi dirinya sendiri dan tidak muncul. Tampilkan suasana hati kita sebagai guru yang positif dan raihlah minat siswa. Jangan mengendalikan anak didik tapi jadilah pengasuh yang baik (ingat bagaimana Anda belajar secara kuantum ketika bertumbuh dan berkembang secara mengagumkan pada rentang usia 0 hingga 6 tahun di bawah asuhan orang tua).

  1. To learn it, do it (Robert C. Schank)

Jika belajar hanya dengan cara mendengarkan maka konten yang dipelajari akan mudah lupa, jika dengan cara melihat mungkin akan ingat tetapi belum tentu bisa, jika dengan cara melakukan maka seluruh indera kita bekerja secara aktif sehingga akan lama diingat dan pasti bisa. Oleh karena itu, lakukanlah kegiatan belajar itu dengan melibatkan anak secara aktif bukan hanya sekedar fisik tetapi aktif secara mental-emosional. Ciptakanlah alat peraga yang memungkinkan anak bisa bereksplorasi dengan melakukan berbagai hal terkait dengan materi yang diajarkan. Bila perlu dan memungkinkan, bawalah objek sesungguhnya yang dipelajari ke dalam kelas atau bawalah anak didik ke lingkungan yang relevan dengan bahan yang dipelajari.

  1. Your brain is like a sleeping giant (Tony Buzan)

Pelajarilah berbagai hasil penelitian mutahir tentang cara kerja otak. Ubahlah pengetahuan kita tentang itu semua ke dalam tindakan kita saat membelajarkan anak. Kembangkanlah kemampuan otak anak secara maksimal melalui pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti berpikir analitis, kritis, dan pemecahan masalah. Jangan biarkan otak anak didik kita terbaring terus dalam tidur yang panjang, atau jangan biarkan otak anak bekerja sambil terkantuk-kantuk. Perhatikan agar kemampuan belahan otak kanan dan kiri anak bisa berkembang secara seimbang.

  1. The traditional education system is Obsolute (Richard L. Measelle)

Dewasa ini kegiatan pembelajaran lebih cenderung bersifat tertutup dan mutlak. Jika guru bertanya dan siswa menjawab tidak sesuai dengan yang diharapkan, maka guru akan menyalahkan seolah-olah jawaban yang benar itu mutlak/tertutup dan tidak ada alternatif jawaban lain. Perlu diingat bahwa: “Anak didik tidak pernah salah dalam menjawab pertanyaan, mereka menjawab sesuai dengan persepsinya atas pertanyaan tersebut. Tugas kita adalah mencari pertanyaan yang benar untuk jawaban tersebut.” Ciptakanlah pembelajaran yang terbuka (divergen) agar berkembang kemampuan berpikir kreatif anak.

  1. Six main pathways to the brain : we learn by what we see, what we hear, what we taste, what we touch, what we smell, and what we do (Gordon Dryden)

Kegiatan pembelajaran yang dilakukan guru cenderung lebih banyak menggunakan metode ceramah sehingga para siswa belajar hanya dengan mengandalkan kemampuan menyerap informasi melaui pendengaran saja, padahal setiap individu memiliki gaya belajar yang berbeda sesuai dengan kemampuan belajar yang menonjol pada dirinya (auditory, visual, dan bodilykinestetics). Lebih parah lagi, secara umum terjadi ketika kita melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan metode ceramah, kita menyampaikan presentasi dan eksplanasi yang cenderung “berbicara kepada siswa” ketimbang “berbicara dengan siswa”. Akibatnya, paling tidak (1) komunikasi menjadi satu arah, (2) siswa pasif menerima informasi dan terkesan seperti tong kosong yang siap diisi dengan berbagai informasi yang mungkin saja tidak sesuai dengan harapannya, (3) pembelajaran menjadi teacher center, (4) potensi intelektual, personal, dan sosial siswa  kurang bertumbuh dan berkembang, (5) kurang memacu keterampilan berpikir siswa, (6) kecil kemungkinan terjadi self-discovery learning, dan     (7) kepercayaan diri siswa melemah. Semua itu menyebabkan hasil belajar yang dicapainya tidak maksimal. Oleh karena itu, ciptakan suasana pembelajaran yang memungkinkan semua kemampuan belajar siswa berkembang.

  1. An idea is a new combination of old elements (Gordon Dryden)

Guru seringkali memaksakan konsep atau materi baru yang diajarkan tanpa mempertimbangkan pengetahuan yang telah dimiliki anak. Padahal manusia belajar dan membangun pengatahuannya atas dasar pengetahuan yang sudah dimilikinya. Lakukanlah pembelajaran dimulai dari apa yang sudah diketahui siswa.

Mencermati beberapa pemikiran cemerlang di atas dan kaitannya dengan penyelenggaran pembelajaran, maka kita yakin bahwa (1) semua anak bisa belajar apapun jika mereka senang melakukannya, (2) bagi anak berbakat (bakat intelektual) belajarnya bisa dipercepat (accelerated learning) jika suasana belajar kondusif untuk terjadinya percepatan belajar, (3) pembelajaran bukan hanya mampu meningkatkan kemampuan atau kecerdasan intelektual anak tetapi juga kecerdasan multiple anak.

Metode pembelajaran yang bagaimanakah yang paling baik untuk terjadinya pembelajaran yang efektif dan efisien? Tentu saja tidak ada metode yang paling baik, karena metode pembelajaran sangat terkait dengan karakteristik materi pelajaran, sarana dan keterampilan guru dalam melaksanakannya. Pada prinsipnya, quantum learning menuntut diselenggarakannya kegiatan pembelajaran yang bersifat multi-method dan multi-threat. Oleh karena itu, kegiatan pembelajaran yang harus dilakukan ke depan disarankan mengunakan metode pembelajaran yang bersifat integratif yang mampu membangkitkan seluruh energi pada diri anak didik untuk belajar, salah satu contoh misalnya pembelajaran kooperatif–kolaboratif.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: