Skip to content

JADI GURU YANG BAIK ATAU TIDAK SAMA SEKALI

June 6, 2012

Oemar Bakri, Oemar Bakri…

40 tahun mengabdiJadi guru jujur berbakti

Memang makan hatiOemar Bakri banyak ciptakan menteri

Oemar Bakri, profesor, doktor, insinyur pun jadi

Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri

(potongan lagu iwan fals berjudul Oemar Bakri)

Demikian potongan lagu guru Oemar Bakri yang dilantukan Iwan Fals yang memotret perjuangan seorang guru yang telah mengabdi selama 40 tahun yang telah menciptakan banyak orang-orang sukses, tetapi sedikit sekali penghargaan yang ia dapatkan. Gaji Oemar Bakri seperti dikebiri. Potret guru yang digambarkan Iwan Fals memang tidak berbeda dengan potret guru hari ini. Baru tahun 2005, guru di Indonesia diakui sebagai profesi yang profesional dengan memiliki penghargaan yang setimpal dari Pemerintah. Sebelum tahun 2005 guru di Indonesia benar-benar menjadi pahlawan tanpa tanda jasa. Guru harus berjuang demi mendapat eksistensinya di hadapan pemerintah maupun publik. Isu program sertifikasi yang digulirkan pemerintah membuat sejumlah guru di Indonesia harus berebut dan berkompetisi menjadi guru yang memilkniki label guru profesional (yang bersertifikat) sehingga akan mendapat tunjangan yang cukup besar. Tetapi muncul pertanyaan, apakah dengan program sertifikasi akan betul-betul merubah wajah pendidikan menuju lebih baik? atau apakah guru yang telah mendapatkan sertifikat dari pengajuan portofolionya akan betul-betul disebut sebagai guru yang profesional?

Pada dasarnya, gurumerupakan pusatperhatiandalamsetiapusahapeningkatanmutu pendidikan. Takadausahainovatifdalampendidikan yang dapatmengabaikanperanan guru.Penelitian di 29 negaramengungkapkanbahwa guru merupakanpenentu paling besarterhadapprestasibelajarsiswa.Pemecahan masalah guru memang belum sepenuhnya dapat dipastikan akan memecahkan masalah pendidikan secara keseluruhan. Namun demikian, mengingat guru merupakan komponen pendidikan yang paling penting, maka pemecahan masalah guru dengan berbagai program yang digulirkan oleh pemerintah (baik dalam bentuk diklat dan pemberian tunjangan tambahan) sudah dapat dipastikan akan memecahkan sebagian besar masalah pendidikan. Pada gilirannya, perubahan akan terjadi dikembalikan kepada diri guru itu masing-masing. Apakah ia sebagai guru memiliki visi untuk memajukan pendidikan dan benar-benar mencerdaskan siswanya, atau posisi guru hanya sebatas mengisi pekerjaan yang kosong? Artinya menjadi guru harus haruslah menjadi pilihan dan keterpanggilan bukan paksaan.

Membicarakan guru danduniakeguruanibaratmengurutbenangkusut :darimanamulaidanpadatitikmanaberakhir? Tentunyajawabanataspertanyaantersebuttergantungpadasudutpandangmana yang digunakandalammelihat guru.Untukmeningkatkankualitas guru harusdilakukanmelalui factor internal daneksternal.Factor eksternal, guru harusbanyakdiberipendidikandanpelatihanberbagaiketerampilanmengajar (metodepembelajaran) dariparapenyelenggarapendidikanbaikpemerintahmaupunswasta yang konsenpadaperbaikan di duniapendidikan. Guru harusbanyaktahu, bagaimanamenghadapisiswa agar siswabelajardenganmenyenangkansehinggapembelajaranberjalandenganmaksimal? Bagaimana guru dapatmemotivasi agar siswamenjadipembelajar yang baik?Sedangkan factor internal, guru haruslebihkreatifdaninovatif, sertabanyakmenyerapinformasitentangperkembanganduniapendidikanterutamaperkembanganmetodepembelajaran.

Tugas guru sangatlah berat karena menyangkut masa depan anak bangsa. Untuk itu, guru dituntut memiliki pengetahuan yang luas, sebagai teladan bagi anak didiknya dan memiliki keterampilan sesuai dengan bidang ilmu yang dimilikinya. Dilihat dari tanggungjawabnya, guru berbeda dengan seorang dokter. Tanggungjawab dokter hanya terhadap satu pasien saja yang ia tangani, sedangkan guru memiliki tanggungjawab yang berat karena ia harus bertanggungjawab terhadap banyak anak didik yang ia ajar. Kalau saja seorang dokter salah memberi obat atau menyuntik kepada satu pasien pada waktu yang sama, maka dokter tersebut hanya bertanggungjawab kepada satu pasien tersebut. Sedangkan seorang guru apabila sedang mengajar tidak hanya menghadapi satu orang melainkan belasan sampai puluhan siswa. Apabila guru salah menyuntikan obat kepada siswa saja, maka guru harus bertanggung jawab sejumlah siswa tersebut. Untuk itu, jadi guru jangan main-main!

Kuadran Guru dan Keharusan “Mengubah” Mind Set

Meminjam Kuadralitas Robert T. Kiyosaki, guru dibagi menjadi 4 kuadran berdasarkan mentalitas kerja. Kuadran Pertama, Guru Pekerja, guru ini diposisi yang paling rendah karena mentalitasnya masih sekadar tuntutan kerja. Guru pekerja adalah guru yang pergi tepat waktu, pulang tepat waktu. Lebih parah lagi, kalau guru itu datang terlambat dan pulang paling cepat. Guru yang mengajar hanya sebatas tugas ataupun kerja belaka, tidak memiliki visi kedepan untuk membangun pendidikan yang lebih baik. Kuadran Kedua, yaituGuru Profesional. Guru profesional adalah guru yang telah memiliki keterampilan dalam mengajar dengan baik sehingga guru ini dihargai oleh banyak orang. Ia sudah mengubah dirinya menjadi guru yang mempunyai “harga” dan harga diri yang dihormati orang. Misalnya, seorang guru profesional disuruh untuk mengajar di sebuah sekolah atau yayasan, kemudian ia dapat menjawab,”berani berapa membayar saya untuk mengajar di sekolah atau yayasan Anda”?. Guru profesional, guru yang sudah di-”hargai” oleh orang lain.

Kuadran Ketiga, Guru Pemilik, guru di kuadran ini sudah sangat profesional dan dirinya merasa memiliki sekolah. Dengan penuh semangat pengabdiannya terhadap dunia pendidikan ia menghabiskan sebagian waktunya untuk mengembangkan pendidikan di sekolah tersebut. Bagi Guru Pemilik seluruh jiwa dan raganya dipersembahkan untuk kemajuan sekolah dimana ia ditugaskan demi membantu mencerdaskan anak-anak bangsa. Kuadran Keempat, Guru Perancang, guru tipe ini memiliki mentalitas yang luar biasa. Guru perancang sangat memahami makna profesinya, memiliki visi untuk mencerdaskan anak-anak bangsa. Ia mendidik dan merancang metode pengajaran dengan kreatif agar bisa dinikmati oleh seluruh guru di Indonesia. Guru perancang inilah, mentalitas guru yang sanggup mengubah diri seorang guru menjadi lebih elegant dan bermartabat di depan siapapun. Guru perancang merupakan guru kreatif, penuh dengan inovasi-inovasi baru dalam dunia pendidikan dan pembelajaran. Pemikiran-pemikiran yang brilian ia tuangkan dalam bentuk tulisan, buku, ataupun konsep-konsep yang lain dalam membangun pendidikan ke arah yang lebih baik.

Guru profesional memang banyak di tanah air ini, tetapi guru profesional berkarakter trainer jarang dimiliki oleh kebanyakan guru. Guru profesional hanya sebatas dia sudah dapat dihargai oleh orang lain karena memang pengalaman dan pengetahuannya yang baik dikala mengajar. Akan tetapi, guru yang memiliki karakter trainer ini adalah guru yang sangat luar biasa. Guru profesional berkarakter trainer dapat mengubah proses belajar menjadi sebuah pesta yang menyenangkan. Dia dapat mengubah mind set seseorang dalam waktu yang singkat. Kehadirannya sangat dinanti banyak orang, terutama siswa-siswanya yang merindukannya.

Salah satu hal yang menjadi perhatian guru profesional berkarakter trainer ini mereka tidak hanya mengembangkan sisi IQ saja, tetapi mereka juga mengembangkan sisi EQ dan SQ siswanya. Masih banyak guru di Indonesia masih menekankan sisi kognitif saja atau wilayah IQ. Hal ini tidak sepenuhnya salah, namun kalau guru terus mengajar dengan memfokuskan pada wilayah kognitif saja, maka sisi afektif (sikap) dan psikomotorik (keterampilan) siswa akan terabaikan. Hasilpenelitian Daniel Golemanmemberibukti yang cukupmengejutkanbahwaaspekkognitifatauintelektualhanya 20% sumbangannyaterhadapkeberhasilanseseorangdalamhidupnya, selebihnyayaitu 80% ditentukanolehkecerdasanemosional. Artinyakecerdasanemosionaldankecerdasan-kecerdasanlainnya, samapentingnyadengankecerdasanintelektual. Bahkan hasil penelitian Danah Zohar mengatakan bahwa SQ memiliki peranan penting dalam sampai 60% dalam mencapai kesuksesan. Kalau di prosentase sumbangsih masing-masing kecerdasan IQ menyumbang 20%, EQ menyumbang 20% dan SQ menyumbang 60%.

Hal ini dipertegas oleh Win Wenger, Ph.D (2002) yang mengatakan bahwa pendidikan di Indonesia tidak lebih dari Guru Berbicara dan Siswa Mendengarkan. Jadi hasil belajar adalah apa yang disampaikan guru dikurangi yang lupa (lupa semua). Itulah hasil pembelajaran yang terlalu mengedepankan IQ.Ditempat yang lain, Paulo Freire mengamati pendidikan yang dikembangkan di Indonesia tidak lain seperti pendidikan ”gaya bank”. Model inimenurutpengamatanFreire, menjadisebuahkegiatanmenabung: paramuridsebagaicelengannyasedangkan guru sebagai penabungnya.  Ruanggerak yang disediakanbagikegiatanmuridhanyaterbataspadamenerima, mencatatdanmenyimpan.Semakinbanyak  murid yang menyimpantabungan, semakinkurangmengembangkankesadarankritisnya. Menurut Paulo Freire, belajaritumerupakanpekerjaan yang cukupberat, yang menuntut sikapkritissistemik (Sistemic Critical Attitude) dankemampuanintelektual yang hanyadapatdiperolehdenganprakteklangsung. Sikapkritissamasekalitidakdapatdihasilkanmelaluipendidikan yang bergaya bank (banking action) ini. Model bank initelahmenempatkan guru dansiswadalamposisiberhadap-hadapan. Guru sebagaisubyekdansiswasebagaiobyek, guru yang “menakdirkan” sedangkansiswa yang “ditakdirkan”, guru sebagaiperandansiwasebagai yang diperankan. Secaraekstrimbahkandapatdikatakan guru sebagaipenindassedangsiswasebagaitertindas.

 Paulo Freiresetidaknyatelahmengungkapkanperan yang kontrasitusebagaiberikut; 1. Gurumengajar, muriddiajar; 2. Gurumengetahuisegalasesuatu, muridtidaktahuapa-apa; 3. Guruberfikir, muriddipikirkan; 4. Gurubercerita, muridpatuhmendengarkan; 5. Gurumenentukanperaturan, muriddiatur; 6. Gurumemilihdanmemaksakanpilihannya, muridmenyetujuinya; 7. Guruberbuat, muridmembayangkandirinyaberbuatmelaluiperbuatangurunya; 8. Gurumemilikibahandanisipelajaran, murid (tanpa dimintapendapatnya) menyesuaikandiridenganpelajaranitu; 9. Gurumencampuradukkankewenanganilmupengetahuandankewenanganjabatannya, yang ialakukanuntukmenghalangikebebasanmurid; 10. Guruadalahsubyekdalam proses belajar, muridadalahobyekbelaka.

            Pengajaran model inimemposisiskan guru sebagaipihak yang ”menang” sedangkansiswasebagaipihak yang “kalah”, suatudikotomi yang mestinyatidaklayakterjadimengingatpengajaranbukan proses perbandingansehinggaada yang menang danada yang kalah. Pastinya, pengajaran model tersebuthanyamenjadikan guru pandaisepihaksedangkansiswatetapbodoh, pasif, kering ide ataugagasan, stagnan, tertindasdanterbelenggu. Upayapembelajaran yang ternyataberbalikmembelengguinitidaklepasbegitusajakarenaakibatdemikiantidakpernahdisadari guru tersebutselagibelumadagugatansecaramaksimaluntukmewujudkanpembelajaran yang benar-benardemokratissebagaikebutuhanpendidikansecaramendesak.

Dengan demikian, revolusipembelajaranmutlakperludilakukankarenapembelajarandewasainiterlalubanyakmengandalkanpadakemampuanmendengaranakdalammenangkapmateripembelajaran, sehinggahasilbelajar yang dicapaitidakmaksimal. Padahalmanusiaadalahmakhlukunik, iabisabelajarmelaluipendengaran, penglihatan, pengecapan, sentuhan, penciuman, melakukan, hayalan, intuisi, danperasaan. Semuakemampuanituharusdiberdayakan agar kemampuan-kemampuanituterlatihsekaliguspembelajaranmenjadilebihefektif.Hanya dengan mengubah diri menjadi lebih baik, Anda akan menjadi orang yang dapat dihargai oleh orang lain. Lakukan yang terbaik untuk anak-anak bangsa, agar mereka menjadi tunas-tunas bangsa yang tumbuh dengan penuh kesuksesan.

Menjadi Guru Profesional Ala Nasrudin Hoja

Ada sebuah anekdot dari Nasrudin Hoja (seorang sufi) yang sedang mengajar kepada murid-muridnya. Suatu hari ia masuk kelas dan memulai pertemuannya dengan bertanya kepada murid-muridnya,”siapakah diantara kalian yang telah membaca dan menguasai materi pelajaran yang akan kita pelajari hari ini”. Di kelas tersebut ada 40 murid yang mengikuti pelajaran Nasrudin Hoja, namun tidak ada satupun muridnya yang mengangkat tangan dengan menyatakan sudah bisa atau menguasai materi. Karena Nasrudin Hoja tahu bahwa muridnya tidak ada yang mengangkat tangan, maka ia berbicara kepada seluruh muridnya ,”baik, karena tidak ada satupun orang yang bisa menjelaskan materi yang akan kita pelajari hari ini, maka kalian harus membaca dan pelajarinya kembali”. Begitu Nasrudin Hoja berkata demikian kepada muridnya langsung ia bergegas keluar kelas.

Hari kedua Nasrudin Hoja masuk kembali ke kelas yang sama dan memulai pembelajarannya dengan pertanyaan yang sama seperti hari yang lalu,”siapakah diantara kalian yang telah membaca dan menguasai materi pelajaran yang akan kita pelajari hari ini”. Karena murid-muridnya takut kalau gurunya akan meninggalkan kelas lagi, maka semua murid mengangkat tangan seolah-olah mereka sudah tahu dan memahami materi yang akan mereka pelajari. Tadinya semua murid mengira bahwa dengan mengangkat tangan, gurunya tidak akan meninggalkan kelas. Tapi apa yang terjadi, karena Nasrudin Hoja tahu bahwa muridnya sudah tahu dan memahami materi yang akan dipelajarinya, maka Ia berkata,”karena kalian semua sudah tahu dan memahami materi yang akan kita pelajari, maka pembelajaran hari ini dicukupkan sekian saja,”. Sambil berbegas meninggalkan kelas. Murid-muridnya Nasrudin Hoja menjadi bingung dan serba salah. Mereka tidak mengangkat tangan, gurunya keluar dan begitu sebaliknya, mereka mengangkat tangan Nasrudin Hoja hanya memberikan kata-kata penghargaan kepada seluruh murid-muridnya. Kemudian, murid-muridnya berkumpul dan bersepakat apabila esok harinya Nasrudin Hoja memberi pertanyaan serupa maka yang akan dilakukan mereka adalah sebagian dari mereka akan mengangkat tangan dan sebagian lagi tidak akan mengangkat tangan.

Keesokan harinya, Nasrudin Hoja masuk kelas dan seperti biasa mengajukan pertanyaan yang sama seperti hari-hari yang lalu,”siapakah diantara kalian yang telah membaca dan menguasai materi pelajaran yang akan kita pelajari hari ini,”? Kemudian, murid-murid Nasrudin melakukan seperti kesepatan yang telah mereka buat, sebagian ada yang mengangkat tangan dan sebagian lagi tidak. Yang mengangkat tangan berarti mereka telah menguasai materi yang akan dipelajari dan yang tidak mengangkat tangan berarti belum menguasai materi yang akan dipelajari. Mereka lakukan demikian agar gurunya tidak selalu keluar kelas apabila gurunya memberi pertanyaan tentang sudah dan belumnya dalam memahami materi yang akan dipelajari pada hari tersebut. Melihat muridnya bersikap demikian, Nasrudin lalu berkata kepada murid-muridnya,”baiklah kalau demikian, bagi murid yang telah memahami dan menguasai materi yang akan kita pelajari harus mengajarkan kepada murid yang belum memahami materi yang akan dipelajari,”, demikian Nasrudin memberi instruksi dan setelah itu ia keluar kelas.

Demikian potongan anekdot yang dilakukan Nasrudin Hoja dalam mengajar di madrasahnya. Apa yang dilakukan Nasrudin Hoja sesungguhnya itulah sejatinya guru profesional, guru yang mampu menguasai keadaan dengan mempotensikan seluruh pengetahuan muridnya tanpa terlebih dahulu ia menjejali materi yang akan disampaikan. Ia memposisikan sebagai fasilitator yang handal, guru yang membangkitkan seluruh kecerdasan siswa. Nasrudin Hoja ingin mengetahui sejauhmana murid-muridnya bertanggungjawab dan menghargai materi yang akan dipelajarinya. Karena baginya, pemahaman tidak akan mengundang kebaikan yang banyak apabila materi atau ilmu tidak dihargai atau dijaga dengan baik. Untuk itu, guru yang baik harus senantiasa membangkitkan energi yang dahsyat dari dalam diri setiap siswanya agar mereka dapat menemukan dan mengalami apa yang tengah dipelajarinya. Berikan kesempatan kepada siswa berbagai pengalaman belajar dengan menceburkan dirinya sedalam mungkin atas apa yang siswa pelajari. Biarkan saja kalau mereka melakukan kesalahan dalam proses belajar, karena dari kesalahan itu mereka akan menemukan ruang cahaya sebagai bekal pengalaman yang tak ternilai harganya. Pengalaman adalah guru terbaik. Kita sebagai guru hanya tinggal membimbing dan mengawasi mereka sewaktu “berenang” dalam lautan ilmu agar mereka tidak tenggelam tanpa makna.

Sebagaiupayameneguhkandirisebagai guru professional berkarakter trainer, setelah prolog iniakandijelaskanbeberapajurusdahsyatuntukmenjadi guru super. Jurustersebutmerupakanakumulasibagaimanaseorang guru dapatmengembangkandiridankecerdasannya, mengembangkankepribadiandankompetensinya.10 jurustersebutsangatpraktisuntukditerapkan di kelas.Kuncibagaimanamenerapkan 10 juruscepatmenjadi guru professional berkarakter trainer iniadalahikhlasdanterusbelajar.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: