Skip to content

Menjadi Guru Diatas Rata-Rata

June 6, 2012

Suatu ketika Nasruddin Hoja diajak ke pasar, sesampainya di pinggir pasar ia ketakutan dan tak mau masuk pasar. ”Biarlah saya di sini saja, pasar begitu menakutkan!” Temannya memaksa dan bertanya alasan ketakutan itu, Nasruddin menjawab, ”Lihatlah betapa banyak kaki yang lalu lalang itu, saya takut begitu keluar dari pasar itu kaki saya tertukar dengan kaki orang lain!” Temannya tersenyum simpul dan mengusulkan jalan keluar, ”Baiklah, kau di sini saja,” sambil membawa Nasruddin ke sebuah warung kopi.

”Bagaimana kalau aku mengantuk lalu tertidur?”, tanya Nashruddin, ”Siapa yang bisa menjamin orang-orang pasar itu ke warung lalu menukarkan tubuhku dengan tubuhnya?” Temannya kebingungan sampai ia melihat tukang jualan balon. Ia membeli satu dan memberikannya pada Nasruddin. ”Ini balon untukmu. Kaitkan pada bajumu, kalau kau bangun dari tidur tinggal lihat saja mana tubuh yang ada balonnya, itulah tubuhmu!” Nashruddin menerima saran jenius itu. Temannya pergi ke pasar, tak berapa lama kemudian Nashruddin pun tertidur dengan sangat pulas.

Begitu temannya selesai, Nashruddin dibangunkan. Dan saat itu Nashruddin langsung mencari-cari balonnya. Balonnya memang sudah hilang, ”Kemana tubuhku?” teriak Nashruddin. Lalu pandangannya terantuk pada seorang anak kecil yang sedang memegang balon, ”Astaga, kenapa pasar membuat tubuhku berubah menjadi tubuh anak kecil itu!”

Kebingungan akan menghinggapi Anda bila siapa Anda ditentukan oleh barang atau uang. Apalagi karena Anda adalah seorang guru yang bergaul dengan pengetahuan untuk menumbuhkan pengetahuan. Bila ilmu adalah cahaya, maka Anda adalah teman dan pengendali cahaya. Diri Anda sangat ditentukan dari ilmu itu. Tetapi ada banyak orang yang tidak percaya diri, akhirnya bernasib seperti Nashruddin. Apalagi guru-guru di daerah terpencil, seringkali merasa bahwa dirinya tidak memiliki kualitas dan karenanya gagap dan cenderung rendah diri.

Kepercayaan diri adalah inti utama dari segala tindakan. Inti semua kehidupan adalah Diri, bukan yang lain. Anda bisa berani, kalau Anda sudah mengalahkan ketakutan yang muncul dari diri sendiri. Anda dapat pintar bila Anda meyakini bahwa Anda berhak pintar. Maka Anda akan menjadi guru yang luar biasa bila Anda telah memutuskan bahwa Anda percaya pada diri sendiri.

Marilah kita lihat konsep “jati diri”, satu konsep yang sudah kita kenali misalnya dalam kata-kata “setiap orang harus memiliki jati diri. Biar mudah mari kita pisah frase “jati diri” menjadi “jati plus diri”. Anda tahu pohon jati?  Kayu “jati” adalah contoh dari keteguhan dan kemampuan alias fleksibilitas untuk membentuk diri. Dari sepotong kayu yang keras, ia mampu bermetamorfosa menjadi perabotan rumah tangga yang berkualitas tinggi. Jeane S Beav di web Pembelajar menulis,

”Idealnya, “jati diri” kita pun demikian. Kita tetap tidak kehilangan kepribadian sebagai “jati” namun selalu siap untuk berubah menjadi sesuatu yang lebih berguna. Tentu saja, tetap dikenal sebagai “jati”. Kita perlu tetap dikenal sebagai diri kita sendiri. Jadi, jika nama Anda adalah Budi, Anda tetaplah seorang Budi, namun mempunyai ketrampilan dan kelebihan yang selalu bertambah dan selalu berubah dari satu kualitas menjadi kualitas yang lebih baik.”

Kemudian Jeane mengemukakan pertanyaan, ”Bagaimana cara mempertahankan “kesejatian” kita namun selalu siap menerima perubahan dan bahkan ikut berubah sesuai dengan tuntutan zaman?” Ia pun mengajukan  sejumlah saran :

Pertama, selalu camkan di dalam hati bahwa saya adalah saya, bagaimana pun keadaan fisik, psikis, emosi, dan finansial saya, saya tetaplah saya. Saya tidak akan menjadi merasa berkekurangan di tengah-tengah kebingungan dan keraguan. Saya punya sahabat setia yaitu saya sendiri. Saya cukup dengan apa yang saya miliki, namun saya membuka hati dan pikiran untuk menjadi lebih baik daripada hari kemarin.

Kedua, saya siap menghadapi tantangan dengan hati yang lapang. Tidak ada rasa ragu dan takut. Toh, apa pun terjadi, I am who I am and what I am. Tidak akan ada perubahan soal siapa saya dan seperti apa identitas alias “jati diri” saya.

Ketiga, saya sadar bahwa untuk bisa bertahan hidup di tengah-tengah perubahan, saya perlu mengikuti perubahan di lingkungan internal (hati dan pikiran) serta eksternal (pekerjaan dan proses pembentukan diri). Untuk itu, saya siap untuk selalu berkembang sepanjang yang diperlukan. Tidak ada yang konstan di dunia dan saya menerima ini sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari diri saya.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: