Skip to content

Guru Menyenangkan : Jalin Keakraban Dengan Cinta

June 7, 2012

Kunci untuk menjalin hubungan emosional yang baik adalah Cinta. Guru yang baik adalah guru yang melandaskan interaksinya dengan siswa di atas nilai-nilai cinta. Hubungan yang berlandaskan cinta akan melahirkan keharmonisan. Sikap cinta, kasih, dan sayang tercermin melalui kelembutan, kesabaran, penerimaan, kedekatan, keakraban, serta sikap-sikap positif lainnya. Abdullah Munir (2007) dalam bukunya Spiritual Teaching, mengatakan bahwa sosok seorang guru harus senantiasa memperlihatkan sifat kasih sayang kepada siswanya setiap saat, baik di dalam maupun di luar sekolah. Kasih sayang yang selalu ditebar inilah yang akan ditangkap siswa sebagai kharisma. Jika seorang guru bersikap penuh kasih sayang di mata siswanya ia akan mewujud menjadi sosok yang kharismatik. Siswa akan mencintai gurunya dengan cara mengidolakannya sebagai sosok yang berwibawa.

Kualitas hubungan guru-murid sangat penting bila guru ingin menjadi efektif dalam mengajar apa pun, mata pelajaran apa pun, isi bidang apa pun, keterampilan apa pun bahkan kepercayaan atau agama apa pun. Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sains, Ilmu Pengetahuan Sosial dan lain-lain, semua dapat dibuat menarik dan mengasikkan bagi siswa apabila diberikan oleh guru yang telah mempelajari bagaimana menciptakan hubungan yang saling menghargai.

Jalinan emosional yang baik akan menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan. Raihlah ijin mengajar dari siswa, agar apa yang disampaikan pada saat proses pembelajaran akan benar-benar terserap secara maksimal. Dengan memperhatikan emosi siswa dapat membantu anda mempercepat pembelajaran mereka. Joseph LeDoux memastikan agar siswa lebih banyak belajar dan terlibat, ikatan emosional juga sangat mempengaruhi memori dan ingatan mereka akan meteri pelajaran. Ia menambahkan bahwa amigdala, pusat emosi otak, memainkan peran besar dalam penyimpanan memori. Untuk itu, dalam rangka melibatkan emosi murid, hendaknya kita menciptakan setiap pertemuan dengan mereka sesuatu yang “berkesan” bagi mereka, misalnya mengaitkan pelajaran dengan peristiwa-peristiwa penting di kalangan siswa.

Membangun jalinan emosional yang baik sangat efektif dalam mengaktifkan siswa dalam proses pembelajaran. Dengan jalinan rasa simpati dan saling pengertian akan membuka jalan bagi kehidupan bergairah siswa, membuka jalan memasuki dunia baru mereka, mengetahui minat-kuat mereka. Dalam Quantum Teaching (2007), Bobby DePorter dkk mengatakan bahwa, membina hubungan dengan baik dapat memudahkan kita melibatkan siswa, memudahkan pengelolaan kelas, memperpanjang waktu fokus, dan meningkatkan kegembiraan. Sejauh kita memasuki dunia siswa, sejauh itu pula pengaruh yang kita miliki di dalam kehidupan siswa.

Quantum Teaching memberikan arahan agar setiap guru memiliki keterampilan menjalin hubungan emosional dengan siswa. Selain dekat dengan siswa, guru harus mampu memasuki kehidupan siswa. Bobby DePorter, mengatakan bahwa Quantum Teacher merupakan Full Contact Teacher. Artinya guru harus mampu memasuki alam batin mereka dengan membangun hubungan “pertemanan” yang akrab. Ada beberapa hal dalam membangun hubungan emosional sehingga pembelajaran agar lebih efektif. Pertama, perlakukan siswa sebagai manusia sederajat (mitra belajar, sama-sama sedang mencari pengalaman ilmu). Kedua, ketahuilah apa yang disukai siswa, cara pikir mereka dan perasaan mereka mengenai hal-hal yang terjadi dalam kehidupan mereka. Ketiga, bayangkan apa yang mereka katakan kepada diri mereka sendiri, mengenai diri sendiri. Keempat, ketauhilah apa yang menghambat mereka untuk memperoleh hal yang benar-benar mereka inginkan. Jika Anda tidak tahu, tanyakanlah. Kelima, berbicaralah jujur kepada mereka, dengan cara yang membuat mereka mendengarnya dengan jelas dan tulus. Keenam, bersenang-senanglah bersama mereka.

Dalam memulai belajar, luangkan waktu untuk bercakap-cakap dengan siswa. Jangan dulu masuk ke materi pelajaran. Kondisikan siswa dalam keadaan siap menerima pelajaran, kondisi alfa. Buatlah siswa tersenyum dengan riang. Masuki terdahulu dunia mereka dengan menyapa dan bertanya tentang aktivitas yang telah mereka lakukan. Sapalah dengan rasa cinta. Satukan jiwa dan raga mereka, karena siswa kita pada saat datang ke sekolah membawa sejumlah persoalan. Barangkali pada saat mereka pergi ke sekolah, ada siswa yang cemberut karena dimarahin orang tuanya pada saat mereka meminta uang jajan. Kita harus yakin, siswa pasti membawa sejumlah persoalan yang dapat mengganggu mereka dalam proses belajar. Untuk itu, siapkan jiwa raganya untuk memahami materi yang akan dipelajarinya. Rasa cinta yang tertanam dalam hati guru, akan mempercepat siswa menangkap pelajaran. Ada ungkapan,”Siswa menangkap pandangan Anda lebih cepat dan akurat, daripada menangkap apa yang Anda ajarkan”. Hati-hatilah dalam memulai dan membuka pembelajaran, karena dapat berdampak pada proses belajar selanjutnya. Siapkan hati dan pikiran secara ikhlas untuk membantu mereka menemukan kecerdasan dan kesuksesannya. Tanamkan motivasi yang tinggi kepada siswa dalam belajar dan tularkan kesungguhan kita dalam mengarungi kehidupan ini yang penuh dengan tantangan.

Salah satu kaidah dalam dunia pendidikan yang sudah disepakati bersama oleh para pakar pendidikan dan kemasyarakatan, bahwa makin menguatnya hubungan atau jalinan antara pendidik dengan anak didiknya akan makin memperkokoh efektivitas proses pendidikan ke arah yang lebih baik. Hal ini juga tentunya akan sangat membantu proses semakin sempurnya pembentukan intelektual, kejiwaan, dan akhlak siswa tersebut. Diyakini pula, mereka yang walaupun memiliki pemikiran yang cukup tercerahkan dan terbuka, jika terdapat celah pemisah antara guru dan siswa maka tidak mungkin proses belajar mengajar akan berlangsung secara sempurna.

Izzat Iwadh Khalifah (2004) mengatakan ada beberapa cara untuk menguatkan hubungan emosional dalam proses belajar-mengajar. 1. Memotivasi anak dengan hadiah, terlebih lagi jika ia telah berhasil menyelesaikan sebuah pekerjaan dengan baik atau mungkin ia berhasil memperoleh prestasi dalam pekerjaannya. Sebagaimana Rosulullah SAW bersabda,”saling memberi hadiah, niscaya kalian akan saling mencintaí (HR. Imam Malik).  Tidak  dipungkiri, pemberian hadiah memiliki pengaruh psikologis terhadap orang dewasa apalagi anak didik kita. 2. Hendaknya senyuman terhadap anak didik selalu melekat di bibir sang pendidik. 3. Bebuat baik, Seorang guru atau pendidik harus bersikap dan berprilaku baik ketika bergaul dan berinteraksi dengan anak didiknya. Hal ini dilatari karena pada dasarnya jiwa manusia diciptakan secara fitrah untuk menyayangi siapa saja yang berbuat baik kepadanya. 4. Memenuhi keinginan anak. Hal ini adalah salah satu cara yang sangat penting dalam rangka memperkokoh hubungan antara pendidik dan anak, terlebih jika keinginan-keinginan tersebut masih dalam batas yang mungkin dipenuhi tanpa perlu memberatkan dan membebani. Ini adalah wujud pertolongan kepada anak untuk bisa berbuat baik kepada gurunya.

Membangun pola hubungan yang baik dengan siswa akan membawa kebaikan yang banyak. Hubungan ini akan mampu menghilangkan dinding pembatas antara pendidik dan siswanya. Ia pun akan semakin mendekatkan perbedaan yang ada diantara mereka berdua. Akibatnya, siswa tidak akan merasakan adanya keganjalan dan kesukaran untuk meminta saran maupun sumbang pendapat, ketika mereka dihadapkan pada berbagai permasalahan. Tentu saja hal ini akan jauh lebih baik daripada mereka mencari pelarian kepada teman-temanya yang sudah tentu belum memiliki tingkat kebijaksanaan dan amanah.

Dale Carnegie, yang dikutif oleh Sukadi (2010), merekomendasikan beberapa kiat agar hubungan antarmanusia berjalan baik sehingga diperoleh komunikasi yang efektif. Kiat-kiat tersebut diantaranya tampak seperti berikut ini :

  1. Menghindari kebiasan KOS (Kritik, Omeli, Salahkan)
  2. Memberikan penghargaan yang jujur dan tulus
  3. Mendorong minat siswa untuk berhasil
  4. Memberikan perhatian yang sungguh-sungguh
  5. Membiasakan tersenyum
  6. Memanggil siswa dengan namanya
  7. Menjadi pendengar yang baik
  8. Berbicara sesuai dengan minat lawan bicara (siswa)
  9. Membuat lawan bicara (siswa) merasa penting

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: