Skip to content

Menata Panggung Belajar : Buatlah Siswa Tersenyum

June 7, 2012

Guru yang baik harus memiliki sejumlah keterampilan dalam mengajar dari keterampilan membuka pembelajaran dengan cara yang menyenangkan sampai pada menutup pembelajaran dengan penuh kesan yang mendalam. Proses awal dalam mengajar di kelas sangat ditentukan bagaimana seorang guru membuka pembelajarannya dengan baik. Bukalah awal pembelajaran dengan mengkondisikan siswa dalam keadaan siap menerima pelajaran atau kondisi alfa, kondisi dimana siswa tersenyum dan merasa nyaman serta diakui keberadaannya di kelas. Guru harus menyadari bahwa siswa kita pada saat datang ke sekolah pasti membawa sejumlah masalah. Untuk itu, tugas guru adalah bagaimana mengkondisikan siswa sedemikian rupa agar mereka siap menerima pelajaran. Satukan jiwa dan raganya di kelas, karena kita harus meyakini bahwa wujud raga siswa ada di kelas belum tentu pikirannya ada di kelas juga, bisa jadi raganya ada di kelas sedangkan jiwa atau pikirannya ada luar kelas. Satukan jiwa dan raganya agar mereka siap untuk belajar.

Mengkondisikan siswa dalam keadaan alfa atau siap menerima pelajaran merupakan keterampilan yang harus dimiliki oleh guru dari sejumlah keterampilan yang harus dimiliki oleh guru-guru profesional. Buatlah mereka tersenyum. Tersenyum berarti pertanda bahwa siswa telah membuka diri untuk siap menerima pelajaran. Ada beberapa strategi bagaimana mengkondisikan siswa dalam keadaan alfa zone, kondisi siap menerima pelajaran. Pertama, menyapa dengan tulus. Seharusnya guru jangan tergesa-gesa untuk langung memberikan materi pelajaran. Sempatkan 5 atau 10 menit untuk menyapa siswa dengan memberikan pertanyaan tentang kegiatan tadi malam dan atau sekedar menyapa agar mereka merasa terperhatikan. Siswa yang dianggap nakal atau sulit untuk dikendalikan karena guru sangat jauh dengan mereka. Guru jarang sekali menyapa dan mendekati mereka. Kedua, menyampakaikan penemuan-penemuan baru. Menyampaikan penemuan baru atau bercerita diawal pembelajaran dapat memberikan stimulasi bagi konsentrasi siswa. Atau bahkan membuat siswa mulai berimajinasi dan itu tandanya siswa sangat siap untuk berpikir. Tentunya penyampaian penemuan-penemuan baru ini sangat disesuaikan dengan mata pelajaran guru bersangkutan. Kegiatan ini tentunya sangat strategis bagi guru agar lebih banyak membaca dan menyerap informasi, sehingga guru terbiasa menjadi guru pembelajaran, guru yang sering membaca dan menulis. Ketiga, memberikan sugesti positif. Cobalah diawal pembelajaran, guru memberikan sugesti positif tentang diri dan pelajarannya. Sampaikan bahwa dirinya akan mudah menyerap mata pelajaran yang akan disampaikan. Secara praktis guru bisa menjadi pemimpin bagi siswa dalam mensugensti dirinya sendiri. Misalnya guru mengatakan setiap kali akan memulai pelajarannya dengan pernyataan,”Matematika, Kimia, Fisika Mudah Yes” atau “Saya Cerdas” dengan sambil mengepalkan tangan.

Ternyata, mengkondisikan siswa siap menerima pelajaran tidak hanya pada saat guru berada di dalam kelas, akan tetapi dapat dikondisikan guru pada saat berada di luar kelas. Artinya sebelum guru masuk kelas, siswa telah terkondisikan dengan baik, mereka sudah siap menerima pelajaran. Bagaimana caranya? Perjalanan guru mengajar tidak hanya pada saat guru tiba di sekolah kemudian mengajar dan pulang, tetapi guru harus sadar dan memperhatikan bagaimana ia mulai akan berangkat mengajar dari rumah menuju ke sekolah. Kondisi dan cara guru pada saat akan berangkat mengajar sangat berpengaruh dalam mengkondisikan siswa di kelas. Hal ini pernah dilakukan oleh seorang guru di salah satu sekolah di cibinong bogor. Sekitar tahun 2004-2006 penulis pernah mendampingi (asisten) seorang konsultan pembelajaran quantum (alm. Ir. Asep Durahman) di SMA Plus PGRI Cibinong yang sampai saat ini menjadi salah satu sekolah model yang menerapkan sistem quantum learning. Ada percakapan yang pernah saya dengar di SMA PLUS PGRI Cibinong Bogor. Percakapan seorang Guru Matematika namanya Drs. Agus Rohiman, M.Pd (beliau seorang Quantum Teacher) dengan siswanya. Segera setelah beliau mengajar di kelas 12 IPA selama 3 jam pelajaran, ada seorang siswa (yang namanya Adi Bagus, menurut sebagian guru dan temanya, dia adalah anak yang nakal) yang mengejar Pak Agus Rohiman sampai ruang kerjanya dan terjadi percakapan berikut ini; (terjadilah percakapan)

 Kata Adi Bagus, “Pak Agus, kenapa sih, saya belajar dengan Bapak selama 3 jam pelajaran sangat enjoy dan bikin saya ketagihan, padahal pelajaran Bapak itukan Matematika”? Pak Agus Rohiman  menjawab,”Apa coba?, Adi Bagus menjawab kembali,”Bapak kan guru Matematika, jago Matematika”. Kata Pak Agus Rohiman kembali menjawab,”Bukan juga, disini banyak yang ahli Matematika”. Adi Bagus semakin bingung dan mengkerutkan keningnya karena Pak Agus Rohiman belum menjawab dengan pasti. Tiba-tiba Pak Agus Rohiman menjawab dengan nada yang rendah, “Kenapa kamu (Adi Bagus) belajar Matematika dengan Bapak begitu menyenangkan sehingga kamu terus ingin belajar dengan Bapak?”, karena pada saat Bapak melangkahkan kaki dari rumah untuk pergi ke sekolah, Bapak sudah merindukan ingin bertemu dengan kamu dengan kelas 12 IPA”. Luar biasa dahsyatnya apa yang dikatakan Pak Agus Rohiman, hanya dengan metode me-RINDU-kan ingin bertemu dengan siswanya pada saat mau mengajar dapat mengubah seketika seluruh proses pembelajaran menjadi sangat menyenangkan dan membuat siswa menjadi nyaman dalam belajar.

            Rindu, sebuah kata yang sangat sering kita ucapkan, akan tepati apabila kita wujudkan sebagai metode atau cara mengajar akan menjadi energi yang sangat dahsyat. Metode dalam membuka pembelajaran. Kalau menggunakan teori Einstein E=mc2, rindu adalah kekuatan cahaya yang memberikan energi dalam mengajar. Rindu merupakan jembatan bagi masuknya cahaya dalam mengikat hati guru dan siswa. Sehingga kekuatan untuk belajar diantara guru dan siswa akan semakin luar biasa, seperti yang dilakukan Pak Agus Rohiman. Berikan kerinduan kepada siswa kita, agar mereka membalasnya dengan kasih sayang yang mendalam, dan cintailah mereka dengan penuh ketulusan agar mereka membalasnya dengan prestasi dan kesusksesan. Rasa rindu yang dimiliki seorang guru haruslah tulus dan suci. Rindu yang mengingingkan siswanya menjadi orang-orang yang sukses. Rindu yang tidak dibuat-buat, rindu yang keluar sebagai rasa cinta dan kasih terhadap siswa kita sebagaimana kita mencintai anak dan keluarga kita sendiri. Bukanlah dalam Islam, keimanan seorang muslim dapat dinilai seberapa besar ia mencintai muslim lainnya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri. Begitupun dengan seorang guru harus memiliki keterampialn dalam memainkan peranan rasa dalam mengajar. Rindu sebagai rasa yang sangat lembut dapat menembus relung hati siswa yang haus cinta dan kasih sayang dari seorang guru.

            Kenapa demikian dahsyatnya dengan me-RINDU-kan siswa kita? Menurut Michael J. Losier (2006), dalam bukunya Law Of Atraction (prinsip kerja pikiran), bahwa pikiran manusia bervibrasi, memancar ke alam sekitarnya. Pikiran manusia saling bersingungan satu sama lain dan bahkan bisa saling mempengaruhi. Pada saat Pak Agus Rohiman me-RINDU-kan ingin bertemu dengan siswanya, pikiran RINDU beliau telah memancar dan menembus relung hati para siswanya, sehingga pada saat bertemu diantara keduanya (Pak Agus Rohiman dan siswanya) terjadi energi yang dahsyat sehingga belajar semakin ringan dan menyenangkan. Memang tidak mudah untuk berlatih me-rindu-kan siswa kita, akan tetapi paling tidak kita harus memiliki semangat bahwa siswa kita harus berhasil dan sukses dalam menempuh kehidupan dikemudian hari. Berlatihlah untuk memfokuskan pikiran kita dengan selalu merindukan siswa kita sebagaimana kita selalu merindukan orang yang sangat kita cintai. Rasa rindu ibarat perekat hati seorang guru dengan siswanya.

            Rindu akan terus merekat erat di hati guru dan siswa apabila diikat dengan jalinan hubungan emosi yang baik. Jalinan emosional merupakan perekat kuat bagi tercipta proses belajar yang mengasyikkan. Tidak hanya Rindu, jalinan emosional yang baik akan menjadi energi yang dahsyat bagi proses belajar. Ia adalah cahaya. Untuk itu, menjalin hubungan emosional yang baik harus menjadi keterampilan bagi setiap guru karena mengingat hal ini sangat penting dalam proses membuka pembelajaran. Hubungan emosional ini sangat menentukan proses pembelajaran, apakah belajar akan menyenangkan atau tidak. Bobby DePorter mengajarkan kepada setiap guru harus mampu menjalin hubungan emosional yang baik pada saat proses pembelajaran. Jalinan hubungan emosi yang positif tentunya akan mengarahkan pada munculnya kekuatan otak yang maksimal sehingga proses pembelajaran akan berjalan dengan baik.

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: